Pengaku Isa Almasih Bertobat

asahannews

CIREBON-METRO; Setelah dibujuk tetangga dekat, orangtua, dan upaya persuasif pihak kepolisian, Ivan Santosa (35), warga Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon akhirnya mau bertobat dan menyatakan mencabut pernyataannya sebagai Isa Almasih putera Maryam, Jumat pagi (31/7).

TOBAT- Dengan melakukan sungkem pada ayah kandungnya, Ivan Santosa (kiri) menyatakan tidak akan lagi menyatakan diri sebagai Isa Almasih.

Saat Radar Cirebon (grup METRO) tiba di kediaman Ivan sekitar pukul 09.00 WIB, anggota Polsekta Selatan Timur (Seltim) bersama ayah kandung Ivan, Satari (62), dan pengurus RT setempat sedang berusaha memberikan nasihat agar Ivan mau mencabut pernyataannya sebagai Isa Almasih, yang telah diketahui masyarakat luas.

Nasihat yang diberikan tak serta merta membuat Ivan luluh. Bahkan beberapa kali terjadi perdebatan. Perdebatan agak mereda, namun belum dianggap menyelesaikan substansi persoalan, ketika Ivan mengatakan dirinya tidak akan menyebarkan kembali pengakuan sebagai Isa Almasih, tetapi hanya meyakini dalam diri bahwa dirinya tetap seorang Isa Almasih.

“Baiklah, saya tidak akan mengumbar pengakuan saya sebagai Isa Almasih lagi. Tapi diri saya memang tetap Isa Almasih. Termasuk bila dalam perbincangan terbatas dengan orang-orang yang mau menemui saya, saya tetap menyatakan sebagai Isa,” katanya.

Para pemberi nasihat pun tak mudah putus asa atas keterangan terbaru Ivan. Mereka tetap menjadikan persoalan utama pengakuan diri Ivan sebagai Isa Almasih mesti disudahi. “Pak Ivan, justru yang jadi persoalan itu ketika Anda masih meyakini dalam hati bahwa Anda seorang Isa Almasih. Sementara pengetahuan agama dan pandangan umum tidak begitu saja mempercayai hal tersebut, karena memang tidak sesuai dengan bukti-bukti dalam pemahaman luas,” ujar Bagian Bina Masyarakat Polsekta Seltim, Aipda Henhen Yusnandar.Ivan masih belum mau menyerah. Ayah dua anak yang telah dicerai istrinya pada 2005 itu balas berargumen bila sejak dahulu kala pengakuan Nabi dan Rasul sebagai utusan Tuhan memang kerap didustakan banyak anggota masyarakat.

“Keyakinan saya sebagai Isa Almasih, tak ubahnya seperti pengakuan seseorang yang mengaku sebagai ustad atau kyai. Bila masyarakat datang dan mau mempercayai ustad tersebut silahkan, tidak juga tidak apa-apa. Begitu pun saya tetap sebagai Isa Almasih, orang mau percaya atau tidak terserah,” tuturnya.

Perdebatan kembali memanas. Seorang ibu tua, tetangga Ivan meng hampiri sambil menangis dan meminta Ivan untuk mau segera bertobat dengan memohon maaf terlebih dulu pada kedua orangtua yang memang sudah tak diakuinya lagi.

Perlahan Ivan pun mulai melunak, terlihat dari raut dan nada bicara. Sampai kemudian ia mengungkapkan sebenarnya tak ingin persoalan ini berlarut-larut dan memohon klarifikasi melalui media massa bahwa dirinya ingin bertobat, sekaligus mencabut pernyataan sebagai Isa Almasih.

Sontak mereka yang ada di dekat Ivan saat itu mengucap hamdalah. Akhirnya setelah berbagai pihak unsur pejabat pemerintahan datang kemudian, seperti camat, kapolsek, Danramil, Ketua RT dan perwakilan Depag Kota Cirebon, secara tertulis Ivan membuat surat pernyataan mencabut keterangan diri sebagai Isa Almasih.

Ivan juga langsung mencopot gambar dirinya yang telah dikukuhkan sebagai Isa Almasih putera Maryam. Lalu menyatakan tobat, dan mau melakukan sungkem pada ayahnya sebagai bukti permohonan ampun sambil mengucapkan syahadat.

“Ya, selama ini saya khilaf dan seperti dibimbing untuk berbuat hal yang dinilai meresahkan masyarakat selama ini. Saya akan kembali menjalani keseharian sebagai seorang muslim pada umumnya. Sekarang saya seorang Ivan Santosa saja, kalau menjadi ustad pun tak apa, yang penting persoalan bisa segera selesai,” ucap Ivan.

Ayah Ivan, Satari, bersyukur atas keputusan Ivan mau bertobat. Ia mengisahkan guncangan depresi menimpa anak keduanya dari lima bersaudara itu dimulai sejak terkena PHK saat bekerja di Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) yang terkena likuidasi awal tahun 2000-an.

“Anak saya sempat berusaha melamar kerja kembali ke sana-ke mari, namun tidak pernah dapat. Akhirnya Ivan mencari nafkah dengan berjualan kue keliling, tapi usaha itu juga akhirnya kandas,” katanya.

Keputusasaan Ivan sebagai kepala rumah tangga, lanjut Satari, bertambah saat pada 2005 istri tercintanya memutuskan mencerai Ivan dan membawa dua anak mereka, setelah enam tahun menikah. Saat itu, sambungnya, Ivan mulai mengalami gangguan kejiwaan dan oleh keluarga sempat diperiksakan ke psikiater di RSUD Gunung Jati.

“Ivan sempat pula meminum obat-obatan yang diberikan. Perkembangan kejiwaannya sempat membaik, tapi kebiasaan minum obat Ivan dihentikan karena dirinya merasa sering merasa pusing,” tuturnya.

Keanehan diri Ivan, khususnya dalam perbincangan masalah pengetahuan agama, ungkap Satari, bertambah saat enam bulan lalu Ivan memutuskan tak mau lagi mengakui ayah dan ibunya sebagai orangtua.

“Satu ketika saya datang ke rumah Ivan. Tanpa diduga, dengan seenaknya dia memanggil langsung nama saya tanpa panggilan bapak. Ketika saya marahi, Ivan malah mengatakan kalau dirinya adalah putera Maryam yang suci, yang diturunkan langsung dari langit,” bebernya.

Kemarin, umat muslim bergegas hendak salat Juma. Ketika ditanya apakah ia akan menunaikan salat Jumat di masjid dekat tempat tinggalnya, padahal sebelumnya Ivan sempat menyatakan kiblat masjid tersebut keliru, Ivan menyatakan mau salat di situ. “Kalau masyarakat menilai kiblatnya sudah benar, saya mengikuti saja,” pungkasnya. (ron/jpnn)

sumber : metrosiantar.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: