KPU tak bisa berhitung!

ANGGRAINI LUBIS
WASPADA ONLINE

MEDAN – Penghitungan suara tahap tiga yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) kembali mengejutkan dan menimbulkan kontoversi banyak pihak. Hasil penghitungan tahap tiga ini meloloskan nama Agung Laksono di Jakarta.

Dalam pengumuman validasi perolehan kursi yang dilakukan KPU, Rabu (14/5) malam, pada penghitungan tahap ketiga Partai Demokrat dan Partai Golkar berhasil menggondol 2 kursi yang tersisa di dapil DKI Jakarta I. Dengan demikian secara otomatis kursi akan diberikan kepada caleg peraih suara terbanyak, dalam hal ini untuk Golkar adalah Agung Laksono.

Sebelumnya sempat beredar kabar bahwa Agung tidak lolos ke Senayan. Sebab perolehan suara Golkar di dapil DKI Jakarta I tidak memenuhi Bilangan Pembagi Pemilih (BPP). Golkar juga tidak lolos di penghitungan tahap kedua dengan 50 persen BPP.

Di penghitungan tahap ketiga, ada 2 kemungkinan bagi Golkar. Pertama, Golkar dapat kursi jika sisa suara yang ditarik ke provinsi hanya dari dapil yang masih memiliki sisa kursi. Kedua, Golkar tak dapat kursi jika sisa suara yang ditarik ke provinsi adalah dari seluruh dapil di provinsi yang bersangkutan. Dengan metode kedua ini, kursi akan menjadi hak PAN dan Gerindra.

Ternyata ketentuan pertamalah yang digunakan KPU. Dengan demikian akhirnya Agung melenggang ke Senayan, meski dengan agak tertatih.

Perbedaan penafsiran atas tata cara penetapan kursi tersebut sempat menjadi polemik. Lembaga pemerhati pemilu seperti Cetro dan juga anggota DPR seperti Wakil Ketua Pansus RUU Pemilu Andi Yuliani Paris tidak setuju dengan cara tafsir KPU. Yang mengherankan, perubahan cara tafsir itu dilakukan mendadak, sekitar 3 hari sebelum penetapan hasil pemilu 9 Mei lalu, setelah KPU berkonsultasi dengan Komisi II DPR.

“Seharusnya jika KPU menghitung dan menafsirkan undang-undang dengan benar, saya yakin Agung Laksono tidak akan lolos,” terang Hadar Gumay, direktur eksekutif CETRO saat dihubungi Waspada Online, tadi pagi.

Bahkan, lanjut Hadar, berdasarkan penghitungan kami Partai Golkar hanya memperoleh 106 kursi. “Memang dasar mereka (KPU-red) yang tidak bisa berhitung. Sejak awal saja mereka sudah salah.”
(wol00/wol-mdn)
sumber : waspada.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: