flu babi : Bersiap Menghadapi Pandemi Influenza

asahannews
Insiden flu babi yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat di beberapa negara telah memicu perhatian dunia menyusul pandemi influenza yang beberapa tahun terakhir ini telah diwaspadai. Adalah mencuatnya kasus ini atas laporan kematian yang terjadi di Mexico, dimana sekarang ini telah lebih dari 150 orang meninggal dunia, dan sekitar 2000 orang mengalami gejala penyakit yang menyerupai influenza. Serangan penyakit disertai kematian ini juga muncul di Amerika Serikat. Laporan ditemukannya mereka yang mengidap gejala penyakit ini sudah terlihat di Spanyol, Canada dan Selandia Baru, Israel, Inggris, Austria dan Jerman.
Di negara yang diduga sebagai pusat kejadian kasus ini yaitu Mexico, pemerintah memutuskan membagikan sekitar 6 juta masker kepada penduduk. Di Amerika, beberapa sekolah ditutup sementara untuk mencegah kejadian yang lebih serius. Di beberapa negara, penumpang yang berasal dari Mexico harus menjalani pemeriksaan suhu tubuh yang lebih intensif.
Dunia memang sekarang sedang berkonsentrasi terhadap influenza yang telah merenggut nyawa manusia itu. Investigasi sementara menemukan bahwa virus penyebab flu babi ini adalah H1N1, tipe yang sesungguhnya tidak terlalu parah dibandingkan dengan virus H5N1 yang menyebabkan flu burung. Dengan angka kematian yang sekarang ini “hanya” berkisar kurang dari 10 persen dibandingkan dengan seluruh penderitanya, flu babi jelas bukan apa-apa.
Namun Badan Kesehatan Dunia (WHO) meresponi kasus ini dengan serius dan sigap. Status bahaya pandemi dinaikkan menjadi level 4 yaitu keadaan dimana bahaya letusan kasus bisa mengenai komunitas yang terbatas. Jika sampai pada level 6, pandemi yang sesungguhnya akan terjadi.
Kalau kita mencermati kasus ini, ada beberapa hal yang membuat para peneliti kesehatan di seluruh dunia merasa kuatir. Pertama, kasus-kasus fatal yang terjadi secara serentak hanya dalam kurun waktu beberapa minggu ini saja, telah menyebar melalui penularan antar manusia pada kelompok muda yang secara biologis cukup kuat terhadap kejadian influenza biasa. Kalau kematian terjadi pada kelompok ini, jelas saja kelompok yang lebih rentan yaitu anak-anak dan orang lanjut usia akan mudah mengalami kasus fatal.
Kedua, kasus ini mengingatkan para pakar kesehatan pada riwayat penyakit flu Spanyol. Virus penyebab kematian massal manusia pada tahun 1918-1919 itu juga adalah H1N1, dengan karakteristik yang hampir sama dengan yang terjadi sekarang yaitu menimpa kelompok usia muda. Waktu itu sekitar 40 juta orang, bahkan diperkirakan lebih, meninggal dalam serangan pandemi influenza yang terjadi dalam tiga gelombang itu. Kalau kejadian ini terulang kembali, dan menyebar dengan cepat sebagaimana pernah terjadi sembilan dekade silam itu, maka jutaan orang akan bisa kehilangan nyawa dalam sekejap mata. Dan itu bisa berarti bencana kesehatan yang sangat mengerikan.
Karena itu pulalah, maka WHO langsung membuka crisis center di Geneva yang dipimpin langsung oleh Dr. Margaret Chan yang mengepalai WHO, lalu menurunkan tim investigasi yang memperkuat para ahli dari CDC di Atlanta Amerika Serikat. Selain mencoba melakukan tindakan segera dalam rangka menangani kasus, perhatian terhadap kemungkinan terjadinya pandemi juga mulai dipersiapkan. WHO telah memperbaharui berbagai panduan untuk menjadi bahan acuan dan rujukan kepada setiap negara. Memang, kalau pandemi influenza sampai terjadi, tanpa persiapan yang memadai, diperkiraan jutaan orang akan meninggal dunia, infrastruktur di seluruh negara akan lumpuh akibat terhenti kegiatan, dan kekacauan massa bisa saja terjadi dengan mudah.
Ulangan
Catatan para peneliti memperlihatkan bahwa pandemi influenza selalui didahului oleh rangkaian serangan-serangan kasus influenza. Pandemi flu Spanyol yang pernah terjadi usai Perang Dunia Pertama adalah titik kulminasi dari dua periode serangan influenza yang sebelumnya pernah terjadi yaitu pada tahun 1890 dan 1900. Meski disebabkan oleh tipe virus yang berbeda, dua kejadian serangan influenza tersebut diperkirakan telah menjadi pintu masuk yang mudah bagi mutasi virus sehingga menjadi lebih ganas.
Karena itu para peneliti kuatir bahwa pandemi influenza bukan tidak mungkin terjadi lagi. Sebab sebelumnya, dunia pernah dilanda oleh beberapa kali serangan influenza yang meski tidak terjadi secara massal seperti serangan flu Spanyol, tetap saja diduga menjadi pintu masuk bagi berulangnya pandemi serupa. Adalah flu Asia (1957), flu Hong Kong (1967), flu Russia (1977), dan disusul oleh flu burung di kawasan Asia Tenggara sejak 2003 sampai dengan sekarang yang dikuatirkan mendahului pandemi ulangan tersebut (Morse, 1993:43; Tabor, 2007:102).
Melihat rentetan kejadian serangan influenza flu babi yang secara sporadis terjadi, bukan tidak mungkin bahwa pandemi influenza memang sudah di depan mata. Mutasi, rangkaian serangan, dan keganasan virus yang semakin terlihat dengan jelas dalam beberapa kejadian kasus kematian pada manusia sebelumnya, bukan mustahil menjadi pertanda bahwa influenza akan segera menjadi “pembunuh” dahsyat dalam beberapa waktu ke depan.
Karakteristik lain yang memicu serangan pandemi juga terjadi secara serupa. Mobilitas manusia mempercepat dan memperluas serangan penyakit. Menyebarnya penyakit influenza pada masa perang terjadi dengan mudah akibat pergerakan manusia yang sangat cepat. Para prajurit perang, pengungsi dan masyarakat yang ingin menyelamatkan diri dengan mudah membawa virus ini ke berbagai tempat. Penduduk yang selamat dari serangan virus ini hanyalah mereka yang berada di kawasan terisolasi dan tidak pernah dikunjungi oleh orang luar, seperti Pulau St Helena di kawasan Atlantik. Di Indonesia, sekitar 1,5 juta orang saat itu meninggal dunia (Howard Phillips dan David Killingray, 2003:10).
Sekarang ini, mobilitas manusia juga berlangsung sangat masif. Data sementara yang kita bisa dapatkan adalah penderita flu babi yang barusan saja terjadi di beberapa negara tersebut memiliki riwayat bepergian ke Mexico dengan berbagai alasan terutama untuk berlibur. Sebagian besar mereka yang bepergian secara resmi antara lain karena diorganisir oleh sekolah atau lembaga tertentu memang bisa ditelusuri keberadaannya dalam rangka memantau perkembangan kesehatan mereka. Akan tetapi masih banyak ribuan bahkan mungkin telah menjadi jutaan orang lain lagi yang tidak bisa diikuti riwayat kesehatannya seusai berlibur dan yang kemudian menjalin kontak dengan orang lainnya. Mereka-mereka inilah yang secara langsung maupun yang mendapatkan dari mereka yang sebelumnya berkunjung ke Mexico, yang kemudian membawa virus ini ke seluruh belahan dunia dimanapun mereka berada, dengan atau tanpa gejala penyakit dan kemudian menularkannya kepada manusia lain yang berada di sana. Meski kemudian kasus outbreak tidak terjadi, virus yang dibawa berkelana itu akan berinteraksi dengan virus lokal dan kemudian mungkin akan menciptakan sebuah virus tipe baru yang mungkin lebih ganas.
Tanda-tanda pendukung lainnya yang juga mengkuatirkan adalah sirkulasi virus yang makin masif pada hewan dan manusia. Sebelum pandemi terjadi di tahun 1918, lompatan besar terjadi pasca revolusi industri. Hewan untuk dijadikan komoditas meningkat. Saat itu juga, manusia berinteraksi dengan hewan juga lebih banyak akibat domestifikasi hewan liar. Dengan demikian, virus influenza yang biasanya hidup di dalam tubuh unggas, babi, anjing, kucing, juga kera, kini semakin lebih mudah berinteraksi dengan manusia.
Kini, keadaan serupa bahkan lebih masif terjadi. Interaksi antar manusia dengan hewan terjadi dengan sangat mudah. Peternakan yang tidak terurus dan dibiarkan kerap kita jumpai. Berbagai jenis hewan dengan riwayat pembawa virus yang berbeda kini banyak memiliki potensi untuk berinteraksi satu sama lain. Unggas, misalnya, banyak ditemukan hidup berdekatan dengan babi. Padahal babi telah lama ditengarai sebagai tempat perindukan yang baik untuk mencampur berbagai jenis virus dari sekelilingnya (Tabor, 2007:102). Interaksi manusia dengan hewan-hewan ini menyebabkan virus “melompat” dan melakukan mutasi genetik sehingga menghasilkan tipe yang lebih ganas.
Skenario Terburuk
Tidak ada salahnya mempersiapkan diri terhadap kemungkinan pandemi tersebut. Para pejabat kesehatan di negeri ini jangan memperkecil masalah dengan menyatakan bahwa kemungkinan terjadinya letusan kasus flu babi di Indonesia amat kecil atau menyatakan bahwa virus tersebut tidak cocok hidup di Indonesia. Otoritas kesehatan di negeri ini jangan menganggap kecil masalah kasus flu babi, sebab kasus flu burung pun bahkan belum bisa dihentikan di negeri ini.
Seluruh dunia sekarang ini sedang berada pada status empat waspada pandemi influenza. Hanya tinggal selangkah lagi untuk terjadinya penularan luas pada manusia, maka pintu pandemi global akan terbuka secara lebar. Kesiap-siagaan masing-masing pemerintah termasuk kita di Indonesia untuk menghadang pandemi influenza, akan mempengaruhi pandemi influenza terjadi sekarang atau tertunda (Penulis adalah peneliti di Badan Litbang Prov Sumut; mahasiswa Nuffield Centre for International Health and Development, University of Leeds, Leeds, UK. e-mail: fotarisman@yahoo.com/d)

sumber : hariansib.com

Satu Tanggapan

  1. Flu babi: hukuman untuk orang – orang yang berbuat aniaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: