Artis jadi wakil rakyat di 2009

Asahannews ( berita asahan )
Masa penjaringan terhadap kader Partai maupun non partai untuk menjadi calon legislatif di PEMILU 2009 terus dilakukan masing masing Partai.Sepertinya keberhasilan Artis didalam pemilihan sebagai wakil rakyat maupun Cagub ( Dede yusuf, Rano karno dan banyak lagi yang lainnya ) menjadi sorotan untuk meningkatkan suara partai.

Sebahagian berpendapat hal ini sudah mengarah kepada azas manfaat untuk mempengaruhi masyarakat agar bisa memilih Partai yang mengusung Artis disebabkan trik trrik mempengaruhi rakyat dengan cara iming iming sudah mulai tidak dipercaya oleh rakyat.

Ada juga yang menanggapi positif terhadap pemanfaatan artis untuk calon legislatif dan beranggapan artis juga manusia dan punya kesempatan untuk menjadi wakil rakyat dan ada juga artis yang punya kemampuan untuk memikirkan bangsa ini. Kalau dia mampu kenapa tidak ….

Bagaimana pendapat anda tentang hal ini

beri komentar….

7 Tanggapan

  1. Kasihan negeri ini, di kampungku disebut “Na dila parende” artinya Omong kosong penyanyi, tidak kerja..nyanyi terus…dan mereka akan memerintah kita….mau kemana negeri tercinta ini. (pendapatku lo ini, boleh kan?)

  2. Apa bedanya aktor dan politisi? Ya, aktor berakting di dunia hiburan, politisi berakting di dunia politik. Memang tidak selamanya politik itu penuh dengan kepura-puraan, tetapi dalam era demokrasi kini, entah apapun jenis demokrasinya, politik dan politisi sama-sama memuakkan. Merayu rakyat dgn manisnya janji yang ternyata kebanyakan omong kosong, lalu ketika menjadi dewan yang terhormat, tidur di kursi, atau menjual BUMN.

    Berawal dari suksesnya bintang pilem terminator Arnold Waswisseger menjadi walikota sebuah kali di Amerika, maka secara fenomenal ngetrend juga di republik ini. Mungkin karena gak bsa membedakan antara sikap akting dan dan perilaku beneran, atau latah dgn sikap rakyat kalipornia (ngeja-nya yg bener yah..) yang konon amerika kan demokratis banget gitu deh, atau ngikut trik marketing dengan memasang artis biar dagangan jadi laris, mirip rokok yang memasang spg biar konsumen ngiler (sama spg-nya, he..he, padahal kalo kebanyakan ngisep rokok, gak bakal bisa membentuk tubuh seksi aduhai kayak milik si spg) atau bisa jadi rakyat memang udah bosan dengan figur-figur para politisi yg dibolak-dibalik sampe gosong juga yg itu-itu saja hanya ganti kaos partai dan sedikit polah plin-plan..maka bim salabim, abra kadabrah, jadilah kita bingung! Susah membedakan mana panggung politik mana panggung sandiwara.

    Yusril ihza mahendra, ada yang aneh dgn politisi satu ini. Entah ingin membuktikan korelasi antara film dan politisi, atau memang sedang mengasah bakat yg terpendam, ia bermain film, kolosal lagi (lihatlah di youtube). Kita tahu kalo film-film kolosal berkaitan erat dengan prpolitikan, mulai dari suksesi raja, pemberontakan, kudeta, skandal seks, dan lain sebagainya; gak tahu deh kalo film kolosalnya macam caligula the movie..

    Film adalah sebuah budaya. Bagaimanapun, budaya banyak dipergunakan untuk kendaraan politik. Ada banyak contoh yg saya tidak bisa sebutkan. Lihatlah, betapa hanya melalui sebuah rambo, Amerika bisa bangkit, meski sekadar menghibur diri dari keterpurukan dipencundangi vietkong di rawa-rawa pelosok vietnam.

    Film, menurut saya, dapat dikatakan mewakili budaya, apapun budaya dari sebuah negara, maka film akan menjadi ikonya. Film-film jepang berlatarkan samurai kebanyakan sukses bahkan dikawinkan dengan holywood, begitu juga india yang selalu menampilkan kain sari dan joget dangdut serta sedikit pamer puser wanita, film india senantiasa lekat dgn budayanya.

    China dgn kungfu-kungfunya, arab dengan latar padang pasir gersang, wanita bercadar, para ksatria berjanggut, dan banyak lagi. Indonesia bisa dikatakan bisa mewakili semua budaya dunia. Semuanya ada, dari kungfu china, cadar arab, tarian ala india hingga seks bebas ala amerika semisal yang lagi jadi hot isu, film ML, (saya gak mau bahas!!) Lantas mana budayanya..?

    Tanpa edukasi yang memadai, sebab lebih mudah menjual produk kepada komsumen yang gak bawel nanya komposisi, kadaluarsa, dan sertifikat MUI, film-film Indonesia suatu saat hanya akan berputar putar dalam siklus sejarahnya. Keberadaan film-film nasional yang diawali dgn film- film penuh nuansa heroik nan religius pada awal kebangkitannya, lalu film-film kependekaran yg sarat filosofi, dilanjutkan film horor berbalut religi, lalu film komedi horor, komedi seks macam warkop, film-film panas, lalu abis itu mati.. dan sekarang kelihatannya akan terulang lagi, eksistensi film nasional hanya akan menjadi semacam siklus industri yang memanfaatkan budaya dan sedikit agama demi meraup uang dan popularitas sesaat tanpa memperhitungkan ekses-ekses tehadap budaya itu sendiri dan agama tentunya.

    Dunia politik indonesia, terutama para politikusnya belum maksimal memanfaatkan sisi lain sinema sebagai alat dan tunggangan, berbeda dgn negara lain, bahkan politisi Turki beberapa tahun lalu menjadikan sinema, saya lupa judulnya, sebagai corong dan media tentang fakta kekejaman Amerika di Iraq.

    Menyusul Wilder yang membuat fitna dan akhirnya membuat kedodoran bangsanya sendiri, pak SBY beberapa waktu lalu juga coba-coba casting, selain beliau juga ada bakat seni menyanyi. Masih korelasi film dan politik, lalu para aktor dunia hiburan ini coba terjun dan agaknya dewi fortuna berpihak. Mulai dari pak Sopan Sopian (Alm), Adjie Masaid, Dede Yusuf, si Doel dan akan segera menyusul yang lainnya. Agaknya fenomena ini akan segera menjadi sebuah trend yg…sangat fenomenal. Anda artis? ingin berbakti bagi pertiwi? saran saya; kalo kelebihan duit dan popularitas; sumbangkan saja buat pendidikan. Anda politikus dan ingin memanfaatkan sinema ini? lebih baik jangan, apapun yang anda buat, penonton akan melihat siapa yang membuat..he..he

  3. Kalau hanya sekedar mengacu pada Peraturan dan perundangan yang berlaku memang artis pun mempunyai hak untuk memilih dan juga dipilih menjadi pemimpin….! Namun perjalanan sebuah bangsa tentunya tidak hanya dilihat dari dasar hukum saja, Tapi mestinya ada kehendak yang mendalam dari calon pemimpin dan yang dipimpin bahwa orang yang menjadi pemimpin adalah negarawan…bukan politikus apalagi artis…..Walaupun pada awal perjalanan karirnya bisa berawal dari seorang politikus, artis atau artis yang politkus. Namun ketika terpilih mestinya berubah menjadi seorang negarawan….Sebab jika tidak maka kemiskinan, kelaparan, kerusakan moral akan dianggap sebagai tampilan seni yang mesti dilestarikan…atau hanya digunakan sebagai segment pasar suara yang potensial pagi partai yang mengaku partainya wong cilik…he…hee

  4. Emang seeh.. sejarah negeri ini telah menyaksikan banyaknya abri yg nyambi sbg politikus, lha kalo profesi lain, eg. dosen, artis, insinyur, lawyer, dsb terjun ke dunia politik kok ada yg dipermasalahkan. Dunia politik adalah dunia yg paling terbuka buat lintas profesi. Belum tentu orang2 yg selama ini dianggap gape di politik bisa jadi dosen, artis, insinyur, lawyer dsb, tp para kuli, pengojek, sopir dsb pun bisa ngomongin politik yg ndak kalah hebohnya dg acara2 debat politik di tv2. Lha coba d tanya2 ke dprd di bbrp daerah, scr kasarnya: tukang becak pun bisa jd anggota legislatip. Alasan mereka simpel: wong cilik juga manusia…😆

  5. sandiwara….semua sandiwara. yang paling mengibur akan dipilih penontonnya. paling tidak karena hiburannya. wah, keliatan kalau rakyat kurang hiburan ni.
    tapi masa iya, kehidupan sebenarnya mau diatur bak panggung sandiwara. ya sudah kalo begitu, di pintu masuk bandara maupun pelabuhan antar negara kita tulis saja: lakon hari ini anu, harga tiket masuk segini…..
    lakon selesai tinggal ngitung untung (rugi gak usah diitung, udah tradisi)

  6. Saya hanya khawatir, rakyat negeri kita makin suka hiburan lelucon, agar bisa tertawa karena sudah tiap hari menderita. ya..khawatir saja. tidak apa-apa kan pak?, semoga rakyat negeri tercinta, benar benar dapat mengecap kekayaan negeri ini, subur, kaya dan indah.

  7. Kalau artis pengen jadi wakila rakyat ya boleh-boleh saja, berarti mereka kan nerasa mampu untuk memimpin rakyat, artiskan juga manusia….eee…tapi jangan buat negeri ini srbagai panggung sandiwara!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: