Presiden SBY : Parpol Jangan Pecah Belah Kerukunan

Medan, (SIB)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan Indonesia tidak sepatutnya dipecahbelah oleh identitas apa pun, termasuk partai politik.
Pada acara silaturahmi dengan jajaran bupati/walikota dan tokoh agama serta pemuka adat seluruh Sumatera Utara (Sumut) di Grand Ball room Hotel Grand Angkasa, Medan, Kamis malam, Presiden meminta proses demokrasi tidak memutus tali persaudaraan.
“Alangkah damainya negeri kita kalau tidak dipecahbelah oleh agama, etnis, identitas apa pun, termasuk parpol-parpol,” tegasnya.
Demokrasi, lanjut dia, meniscayakan kompetisi. Namun, tidak boleh memutus tali persaudaraan.
“Kompetisi bisa keras nanti. Itu wajar, tetapi harus teduh. Harus tanpa kekerasan dengan politik-politik yang baik, bukan fitnah dan kampanye negatif,” tuturnya.
Sekeras apa pun kompetisi yang akan terjadi menjelang Pemilu 2009, Presiden Yudhoyono berharap jangan sampai menimbulkan kekerasan yang akan merusak kesatuan Indonesia.
“Sekeras apa pun kompetisi, setelah itu selesai. Setelah itu bersama membangun Indonesia lagi,” ujarnya.
Presiden mempersilahkan pejabat pemerintah yang ada di bawahnya, termasuk penyelenggara negara, untuk mengikuti masa kampanye tertutup yang telah dimulai sejak Juli 2008.

lanjutan

Namun, ia mengingatkan para pejabat pemerintah guna tetap mengutamakan jalannya roda pemerintahan serta mengedepankan pelayanan untuk masyarakat.
“Boleh ikut berjuang secara politik kalau pejabat itu jadi bagian Parpol yang ikut pemilu,” kata Presiden, “Tapi saya harapkan, jangan lalai jadi abdi pejabat pemerintahan.
Meski menjelang Pemilu 2009 situasi politik bisa memanas dan kondisi sosial dapat bergetar, Presiden berharap kebijakan pemerintah tetap dijalankan.
“Saya ajak semua komponen untuk mensukseskan Pemilu 2009, dan segalanya itu untuk rakyat,” ujarnya.
Pada acara silaturahmi itu, juga dilangsungkan dialog antara Presiden dan jajaran pemerintah provinsi Sumut yang dipandu oleh Gubernur Sumut Syamsul Arifin.
Presiden yang duduk di panggung bersama Ibu Ani Yudhoyono, didampingi oleh dua menteri, yaitu Menteri Dalam Negeri Mardiyanto dan Menbudpar Jero Wacik.
Menanggapi pertanyaan yang khawatir terhadap banyaknya jumlah parpol di Indonesia, Presiden menganggap kondisi itu merupakan euforia kebebasan reformasi.
“Saya memandangnya begini, dulu hampir 30 tahun aspirasi banyak hambatan. Ketika jebol pada 1999, maka euforia kebebasan luar biasa,” tuturnya.
Presiden berharap, jika pada saatnya demokrasi Indonesia sudah matang, maka jumlah parpol yang banyak itu dapat menyusut hingga jumlah yang wajar.
“Tetapi berkurang alami, bukan dipaksa, sampai berjumlah yang menurut kita wajar. Ada yang bilang sepuluh, tetapi kita lihat saja sama-sama,” katanya.
Presiden menyatakan tidak khawatir dengan banyaknya peserta Pemilu 2009 yang mencapai 34 parpol.
Yang penting, kata Yudhoyono, parpol berjumlah banyak itu berpolitik secara baik, menjadi bagian dari solusi, dan tidak menimbulkan kegaduhan serta hiruk pikuk.
PRESIDEN KLAIM ARAH REFORMASI SUDAH BENAR
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengklaim arah yang dituju proses reformasi telah benar dengan agenda yang tepat.
“Sepuluh tahun itu kita alami transformasi, termasuk demokrasi. Tujuan sudah benar, arah benar, dan agenda tidak ada yang salah,” tutur Presiden pada acara silaturahmi dengan jajaran bupati/walikota seluruh Sumatera Utara (Sumut) di Hotel Grand Angkasa, Medan, Kamis malam.
Presiden Yudhoyono mengakui memang ada penyimpangan dari rel reformasi sehingga ada beberapa hal yang kebablasan.
Namun, lanjut dia, reformasi tidak bisa dibatalkan begitu saja dan jangan dijalankan secara gamang karena adanya hal yang menyimpang dan kebablasan itu.
Ia meminta agar semua pihak berefleksi dan melakukan koreksi sendiri agar hal yang menyimpang dan kebablasan itu tidak dibiarkan atas nama reformasi.
“Kalau kita menuju ke arah yang salah maka kita menjadi bangsa yang salah dan keluar dari cita-cita bersama. Proses harus terus menerus kita olah, tetapi kita tercegah dan terhindar dari ekses dan penyimpangan perilaku dari tidak benar,” tuturnya.
Presiden di depan jajaran bupati/walikota seluruh Sumut itu menyebutkan beberapa indikator kesuksesan pemerintahannya, di antaranya terus memperbaiki sendi bernegara yang tadinya mengekang kebebasan serta membatasi hak asasi.
Ia juga menyebutkan penyelesaian konflik Aceh dan konflik komunal lain seperti di Poso untuk tetap menjaga kesatuan negara.
Kepala Negara juga menyebutkan indikator ekonomi, yaitu berkurangnya rasio utang terhadap PDB, turunnya angka kemiskinan, serta lunasnya utang kepada Dana Moneter Internasional atau International Monetery Fund (IMF).
“Angka kemiskinan yang dikeluarkan Maret 2008, 15 koma sekian itu adalah yang terendah selama sepuluh tahun,” ujarnya diikuti tepuk tangan para hadirin.
Presiden menambahkan, adalah kebohongan untuk mengatakan tidak ada yang berubah meski ia mengakui banyak masalah belum terselesaikan.
Untuk itu, ia meminta kebersamaan semua pihak guna terus mencapai cita-cita bersama reformasi.
Di depan jajaran bupati dan walikota seluruh Sumut, Presiden Yudhoyono juga memaparkan program-program pro rakyat dan meminta agar program seperti itu diberitakan secara luas.
GUBERNUR SUMUT mengaku GUGUP DI DEPAN PRESIDEN
Baru 32 hari menjabat Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Syamsul Arifin sudah harus menjamu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di daerah kekuasaannya.
Meski sebelumnya telah makan asam garam menjabat Bupati Langkat, rupanya gugup belum bisa hilang dari Syamsul.
Akibatnya, pada silaturahmi Presiden dengan jajaran bupati/walikota di Hotel Grand Angkasa, Medan, Kamis malam, Syamsul menyebut Ibu Ani Yudhoyono dengan nama Nani.
“Selamat datang kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang kita sayangi dan Ibu Nani Bambang Yudhoyono,” ujarnya dengan nada ringan tanpa rasa bersalah.
Kontan, ucapan selamat datang itu langsung diprotes istri Presiden sambil mengacungkan tangan dan menyebut namanya adalah Ani.
“Maaf, masih gugup ini,” sahut Syamsul masih dengan rasa tidak bersalah, yang diikuti tawa hadirin.
Beruntung, Syamsul memiliki gaya berpidato yang kaya humor sehingga gugupnya akhirnya menguap dan justru ia sering memancing tawa hadirin.
Presiden Yudhoyono dan Ibu Ani juga terlihat tidak bisa menahan tawa dan tampak ceria.
Bahkan, saat berdiri di podium untuk menyampaikan arahan setelah Syamsul “beraksi”, Presiden masih tampil dengan wajah ceria dan penuh senyum.
“Teruskan tertawa dulu,” ujarnya kepada hadirin yang masih larut dengan tawa akibat sambutan Syamsul.
Presiden pun lantas memuji Syamsul dengan gaya pidatonya yang cair itu.
SUMUT MEMILIKI KULTUR YANG KUAT
Pertemuan silaturahmi itu kelihatan dihadiri Mendagri Mardiyanto, Menteri Pariwisata Jero Wacik, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, unsur Muspida antara lain Ketua DPRD Sumut Abdul Wahab Dalimunthe SH, Pangdam I/BB Mayjen TNI Markus Kusnowo, Kapoldasu Irjen Pol Nurudin Usman, Pangkosekhanudnas, Danlantamal I Belawan.
Presiden SBY mengakui sangat respek kepada Sumut dan dikatakan, walau ada akar-akar perbedaan tapi jika setiap elemen berjiwa besar segala benturan tidak akan terjadi. Sumut tidak pernah retak walau ada masa kampanye dan dengan banyaknya Parpol saat ini, itu pertanda alam demokrasi.
Acara yang juga dihadiri sejumlah tokoh ini seperti DR GM Panggabean, H Anif Shah, Rahmat Shah, H Mudiono,JA Ferdinandus, Bachtiar Djafar, Raja Muda, Ali Akbar Marbun, Muhyan Tambuse,Parlindungan Purba, Lundu Panjaitan, Vincen Wijaya, Jaya Suparana, Prof DR M Hatta, Maja Hutapea ini, menurut Presiden SBY masyarakat Sumut cukup dinamis, suka kerja keras dan banyak putra/putrinya yang berhasil baik di tingkat nasional maupun dunia.
Presiden SBY menyebutkan bahwa kunjungan ke daerah ini merupakan kunjungan ke-15 kalinya dan presiden memiliki kesimpulan yang positif bahwa ada satu modal besar yang dimiliki masyarakat Sumut yang harus dipertahankan dan jangan disia-siakan dan jangan sampai ada potensi/kekuatan yang tidak digunakan dengan baik sehingga kemajuan yang seharusnya diraih lebih cepat lagi tidak dapat dilakukan.
“Saya mempunyai kesimpulan yang positif bahwa ada satu modal besar yang dimiliki oleh Sumut dengan masyarakatnya yaitu masyarakat Sumut adalah masyarakat yang dinamis, suka bekerja keras, berani menghadapi tantangan dengan kultur yang kuat sehingga banyak kemajuan yang dicapai sepanjang perjalanan di wilayah ini,” ujar SBY.
Presiden SBY juga menyampaikan bahwa kedatangannya ke Sumut khususnya Simalungun untuk menggalakkan program-program pro rakyat seperti program pemberdayaan masyarakat dan menggerakkan ekonomi mikro, kecil dan menengah.
Banyak diantara kita yang tidak yakin diri, melihat dirinya selalu kurang, jelek, selalu lemah dan seterusnya melihat orang lain, bangsa lain silau, seolah-olah bangsa itulah yang besar kita tidak. Itu pikiran yang keliru, itu pikiran yang gelap , pikiran yang negative dan sikap pesimis.
“Saya ingin, kita semua, apalagi Sumut yang berkarakter yang sangat kuat ke depan sambil mengajak yang lain dan generasi muda berjiwa terang , berpikir positif dan bersikap optimis. Kalau itu kita miliki maka kita makin kokoh. Dengan persatuan dan kesatuan kita, seberat apapun yang kita hadapi di Sumut, di Indonesia, kita akan maju menjadi masyarakat dan bangsa yang dicita-citakan bersama ,” ujar Presiden penuh harap.
Presiden juga menyatakan, kita tidak sepatutnya terpecah belah oleh agama, oleh etnis, oleh suku, oleh identitas apapun termasuk oleh partai politik. “Jangan, dalam alam demokrasi , kompetisi diniscayakan, tapi tidak boleh menghancurkan silaturahim, tidak boleh memutus tali persaudaraan . Mari kita jalankan semua ini dengan pikiran yang terang, kita harus bersatu, rukun damai, saling menyayangi, saling menghormati sehingga kekuatan ini makin dasyat,” ujarnya.
Presiden SBY juga meminta agar bupati/walikota harus harmonis dan konstruktif dan melakukan tanggungjawab masing-masing. Berkaitan dengan masalah listrik, Presiden SBY meminta agar dilakukan penghematan.
Sementara itu Gubsu H Syamsul Arifin mengatakan, bahwa Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sangat dicintai masyarakat. “Sambutan masyarakat Sumut sepanjang jalan terhadap kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Hj Ani Bambang Yudhoyono sangat luar biasa. Ternyata Presiden SBY sangat dicintai rakyat Sumut, dan kunjungan Presiden SBY kali ini pas saya 32 hari menjadi Gubernur Sumatera Utara,” ujar Gubsu.
Syamsul mengatakan, dirinya terpilih jadi gubernur berkat tokoh agama, tokoh masyarakat, masyarakat Sumut serta visi dan misinya, yakni takwa kepada Tuhan, rakyat tidak lapar, dan tidak sakit, serta tidak bodoh. “Kita juga sepakat mendukung apa pun kebijakan pemerintah pusat, karena di dalam agama pun orang diwajibkan patuh kepada pemimpin atau kepada presiden yang sah,” papar Gubsu.
Kepada Presiden, Gubsu dalam kata sambutannya juga menuturkan, banyak orang memprediksi Pilkada Gubernur Sumut minimal dua kali. “Bisa terjadi tumpah darah, makanya saya mendatangi tokoh masyarakat Sumut Pak DR GM Panggabean. Ini raja Batak Pak Presiden. Saya tanya, macam mana Bos apakah akan ribut Pilkada Gubsu ini, tapi kata Pak GM kepada saya, kalau kau Gubernurnya amannya itu, ternyata apa yang dikatakan Pak GM itu, aman Pak Presiden sampai saat hari ini,” ucap Gubsu.
Gubsu menyampaikan, kedatangan Presiden RI SBY ke Sumut bagaikan kilat di waktu hujan. “Artinya untung ada kilat sehingga pantai terang-menderang, Pak Presiden cinta Indonesia tapi lebih cinta terhadap Sumut,” papar Gubsu.
Gubsu himbau, Pemilu mendatang diharapkan jangan membuat keretakan persatuan dan kesatuan. Apalagi masyarakat Sumut tidak iklas dengan keretakan itu. “ Saya melaporkan, Pilkada Gubsu 2008 ini, anggaran yang disiapkan dan perhitungkan akan terjadi dua putaran Pilkada Sumut, ternyata hanya satu kali. Polri pun memulangkan anggaran yang sisa sebesar Rp 2 miliar, KPUD Sumut mengembalikan Rp 80 miliar lebih, Panwaslih Rp 60 miliar lebih, jadi kalau ditotal yang pulang anggaran itu sekitar Rp 150 miliar lebih, itu semua berkat ketenangan dan ketentraman selama Pilkada di Sumut,” kata Gubsu (tepuk tangan).
Menurut Gubsu, anggaran Rp 150 miliar lebih ini sangat besar artinya di dalam pembangunan yang dibutuhkan rakyat Sumut. “Begitu juga BLT yang diberikan Pak Presiden SBY kepada rakyat sebesar Rp 300.000 itu juga sangat besar artinya bagi masyarakat,” ucap Gubsu.
Gubsu mengungkapkan, dirinya telah memberikan sebuah gambar saat Ibu Negara Hj Ani Bambang Yudhoyono masih kecil di kota Medan. “Presiden SBY datang ke Sumut sudah 15 kali, namun saya mengharapkan Presiden SBY bisa datang kembali ke Sumut. Kalau pak Presiden SBY tidak datang lagi ke Sumut, tentu masyarakat Sumut menganggap bahwa pak Presiden SBY benci terhadap Gubsu,”kata Gubsu.
Pada kesempatan itu, Presiden SBY memberi paparan hingga satu jam dan dilakukan dialog dari tokoh masyarakat agama/pendidikan, pemuda, wanita dan birokrat, antara lain para Bupati/Walikota se Sumut diwakili Walikota Sibolga Drs Sahat P Panggabean MM menyampaikan pertanyaan dan harapan. Pemuda diwakili Rajamin Sirait dan dua pembicara lainnya dari mewakili perempuan dan MUI/Tokoh Agama/masyarakat.
Semua pertanyaan dijawab oleh Presiden dengan jelas dan memuaskan.
Dalam kata penutupannya, kembali Gubsu H Syamsul Arifin membuat humor politik. Katanya, ada yang bertanya, apakah maksud kedatangan Presiden SBY ke Sumut untuk kampanye? Gubsu menjawab : “Bukan untuk kampanye. Tak kampanye pun, dia (maksudnya SBY) sudah akan menang itu……”Semua hadirin tertawa dan bertepuk tangan. (Ant/M3/M35/c)
sumber berita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: