Ilyas Karim Pengibar Bendera Merah Putih 17 Agustus 1945, Pejuang yang Hidup di Rumah Gembel

Asahan(asahannews)
Kehidupan pejuang ini memang sangat menyedihkan. Selain tidak mendapat santunan, dia juga tidak mendapat perhatian yang layak dari pemerintah. Inilah potret kehidupan sang pengibar pertama Sang Saka Merah Putih, Ilyas Karim.
“Saya menempati rumah gembel. Tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah. Sampai sekarang,” keluh Ilyas ketika ditemui detikcom di rumahnya, Jl. Rawajati Barat, Kalibata, Jaksel, Selasa (12/8).
Ilyas Karim saat ini menempati sebuah rumah sempit berukuran 50 meter persegi yang berdiri di atas sebidang tanah di pinggir rel kereta api. Jarak dari rel ke dinding rumah hanya sekitar 5 meter. “Tiap lima belas menit kereta lewat,” kata Ilyas.
Pejuang kelahiran 13 Desember 1927 itu menempati rumahnya di pinggir rel itu sejak 1985, setelah digusur dari rumah dinasnya di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Ilyas mengaku pada mulanya dirinya sangat terganggu dengan suara kereta yang lewat di dekat rumahnya. Namun lama-kelamaan dia merasa terbiasa.
Tanah itu sendiri dia peroleh dari PJKA (sekarang PTKA) dalam bentuk pinjaman. PJKA mempersilakan Ilyas memakai tanah itu sampai kapan pun. “Sampai saya bosan,” lanjut Ilyas.

lanjutannya

Ada alasan kenapa PJKA meminjami tanah kepada Ilyas. Dulu ketika terjadi drama Bandung Lautan Api (24 Maret 1946), salah satu incaran warga adalah kereta api-kereta api. Mereka hendak membakar kereta api. Bensin sudah disiramkan. Namun Ilyas dan kawan-kawan di Divisi Siliwangi berhasil mencegah. “PJKA merasa berhutang budi kepada kami,” kata Ilyas.
Meskipun diberi pinjaman tanah, namun untuk rumahnya, Ilyas harus membangun sendiri. Dibantu oleh kawan-kawan seperjuangannya di Divisi Siliwangi, Ilyas mendirikan sebuah rumah sederhana dua lantai di tanah pinjaman tersebut.
“Tempat ini tadinya tempat pembuangan sampah. Setelah saya membangun rumah, yang lain pada ikut-ikutan,” kata Ilyas.
Di sepanjang rel memang tidak hanya berdiri sebuah rumah milik Ilyas. Ada sederet rumah lain milik warga yang tadinya sama-sama tidak memiliki rumah. Namun mereka semua bukan veteran perang. Hanya Ilyas seorang veteran di deretan rumah pinggir rel itu.
Ilyas tinggal di rumah kecil itu bersama isterinya Hj. Darnis (60), anak bungsunya beserta menantu, dan 3 orang cucu. Ketigabelas putranya yang lain sudah pergi jauh menjalani hidup mereka masing-masing.
Ilyas Karim Tak Kenal Supriyadi atau Andaryoko
Andaryoko Wisnu Prabu (89) yang mengklaim sebagai Supriyadi, tokoh Pembela Tanah Air (PETA), mengaku juga sebagai pengibar bendera Sang Saka Merah Putih 17 Agustus 1945 lalu. Namun, Ilyas Karim, salah seorang pengibar bendera Sang Saka Merah Putih, tidak mengenal Supriyadi atau Andaryoko.
“Saya tidak mengenal Supriyadi. Saya hanya murid, tidak tahu tokoh-tokoh politik,” terang Ilyas saat ditemui detikcom di rumahnya di Jl. Rawajati Barat, Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa (12/8) saat ditanya apakah saat pengibaran bendera itu ada juga pengibar bendera bernama Supriyadi.
Kalau Andaryoko? “Saya juga tidak mengenal dia,” kata Ilyas.
Ilyas yang kini hidup di pinggir rel Kalibata Jakarta Selatan itu memastikan bahwa dua orang pengibar bendera waktu itu adalah dirinya dan Sudanco Singgih, seorang tentara PETA. “Kami diperintahkan oleh Sudanco Latief,” kata Ilyas. Saat itu tidak ada tentara PETA bernama Supriyadi atau Andaryoko.
Upacara bendera dalam rangka pembacaan proklamasi kemerdekaan RI di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta itu dihadiri oleh Dwitunggal Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Dalam foto upacara bendera yang terpublikasi selama ini, terlihat dua orang pengibar bendera Sang Saka Merah Putih.
Seorang mengenakan pakaian tentara, seorang lainnya mengenakan celana pendek. Menurut Ilyas, pengibar bendera celana pendek adalah dirinya. Sedangkan pengibar berpakaian tentara adalah Sudanco Singgih.
Jika ditengok dalam beberapa tulisan sejarah, pengibar bendera Sang Saka Merah Putih ini juga menjadi misteri dan kontroversi, terutama pengibar bercelana pendek. Selain ada nama Karim Ilyas, juga ada orang lain, Soehoed, yang juga mengaku sebagai pengibar bercelana pendek. Dan kini, kontroversi bertambah lagi setelah Andaryoko juga mengaku sebagai pengibar bercelana pendek itu.
Digusur, Pejuang Ilyas Karim Tagih Janji Foke dan SBY
Ada nada geram pada suara Ilyas ketika menyinggung nama Gubernur DKI Fauzie Bowo alias Foke. Sebab, dengan telinga sendiri Ilyas mendengar Foke berkampanye di lapangan Rawajati di dekat rumahnya. Waktu itu Foke mengatakan kalau dirinya menang akan memperhatikan nasib rakyat kecil.
“Tolonglah bantu saya. Kalau dibantu saya akan bantu rakyat kecil,” kata Ilyas menirukan suara Foke ketika kampanye di Lapangan Rawajati menjelang pemilihan Gubernur DKI 2007.
Betapa pedih hati Ilyas saat tahu bahwa orang yang mengeluarkan janji itu justru adalah orang yang membuat kebijakan untuk mengusirnya dari rumah yang telah ditanggalinya selama 23 tahun. Ilyas diberi waktu hingga akhir 2008 untuk menempati rumah kecilnya di Jl. Rawajati Barat, Kalibata, Jakarta Selatan. Setelah itu, Ilyas harus pergi, entah kemana.
“Pesan saya untuk Fauzie Bowo, tepatilah janji kamu,” kata Ilyas dengan nada agak berapi-api saat ditemui detikcom, Selasa (12/8).
Pesan serupa dia kumandangkan untuk SBY. Menurut Ilyas, dulu menjelang Pemilu Presiden 2004 SBY pernah menemuinya. SBY meminta Ilyas membantunya berkampanye dengan memanfaatkan jaringannya sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Yayasan Pejuang Siliwangi Indonesia yang memiliki cabang di 14 provinsi, antara lain di Medan, Riau, Jambi, Palembang, Banten, dan Ambon. Waktu itu SBY berjanji akan memperhatikan nasib para pejuang jika dia menjadi presiden.
“Dia mengatakan akan memperhatikan nasib para pejuang,” kata Ilyas yang merupakan pengibar pertama bendera Sang Saka Merah Putih pada 17 Agustus 1945 lalu.
Namun betapa kecewanya Ilyas ketika janji yang telah dikeluarkan SBY tidak ditepati. Dia bersama teman-teman seperjuangannya tidak mendapat perhatian yang layak dari pemerintah. Satu-satunya perhatian nyata barangkali adalah jatah uang pensiunan sebesar Rp 1,5 juta yang rutin diterimanya tiap bulan. Selain itu, nihil.
“Pejabat pemerintah tidak perhatian sama sekali kepada kami para pejuang,” keluh Ilyas.
Ketika ditanya mengapa tidak mengajukan permohonan ke pemerintah, Ilyas hanya menjawab, “Pemerintah otaknya otak batu. Gimana mau ngajukan? Percuma saja.”(detikcom/d)
berita senada

About these ads

10 Tanggapan

  1. Dari seorang veteran yang lugu dan sering termakan janji, akhirnya beliau mengatakan “Pemerintah otaknya otak batu. Gimana mau ngajukan? Percuma saja.”
    Semoga pemerintah memenuhi janjinya itu saja, tidak macam-macam kok.

  2. wah postingannya relevansi dengan puisi saya
    silahkan mampir pak
    mohon doanya buat acara bersih2 monumen bloggersumut tanggal 16 agustus ini ya pak

  3. kasian ya nasib ilyas.. terlantar tak diperhatikan.
    katanya sih bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya… tapi mannnaa buktinya? :) :(

  4. benar2 lugas ilyas karim

  5. PROF.DR.KH.NANANG HARIADI SE.MSc. atau Gus Har Dinilai Penuhi Kriteria Menteri Agama RI 2009-2014

    Ketua Umum DPP KOBUKI Gus Har disebut banyak pihak memenuhi kriteria untuk mengisi posisi Menteri AGAMA REPUBLIK INDONESIA menggantikan MAHFUD BATSUNI. Sesuai rencana, Calon Presiden H Wiranto SH akan menunjuk pengganti MAHFUD BASTUNI seusai Hari Raya Idul Fitri 2008. ”Kalau kriteria,dia masuk,”kata Ketua Umum DPP HANURA kepada KOBUKI PERS, tadi malam. Meski demikian, tentang siapa yang akan menggantikan Makfud Batsuni, dia menyerahkan sepenuhnya kepada Presiden. ”Tunggu saja bisa besok atau lusa,” tegasnya. Meski masuk kriteria, dia menilai Gus Har memiliki kekurangan yang perlu diperbaiki. Salah satunya menyangkut Kepolosannya dalam segala Hal. Politikus Partai HANURA AS HIKAM, bila melihat kompetensi para figur yang muncul, saat ini ada tiga orang yang dinilai bagus, antara lain , Hazim Muzadi ,KH.Makruf amin, dan Gus Har ”Ketiganya Ulama dari kalangan NU dan memiliki pengalaman yang bagus,” katanya. Namun, bila Presiden menginginkan figur yang bisa mengetahui apa keinginannya, dia menyebut Gus Har lebih cocok. ”Gus Har sudah bersama Calon Presiden Wiranto SH.cukup lama. Ibaratnya Pak Wiranto baru ingin mengerjakan sesuatu, Pak Prof.DR.KH.Nanang Hariadi SE.MSC. tahu duluan.Jadi sudah ada chemistry-nya,” tandas dia. Ulama Muda penemu pecipta Huruf Jorab, menyerahkan sepenuhnya tentang pengganti Mahfudz Batsuni kepada Presiden SBY. Muhaimin Iskandar selaku Ketua Umum Tanfidyah DPP PKB sebagai partai Pendukung hanya berharap, Menteri Agama RI dapat bekerja sama dengan DPR karena banyak RUU Keagamaan yang harus diselesaikan dalam waktu dekat ini. ”Yang penting, Menteri Agama yang loyal sama Presiden, tidak nantinya berpotensi menjadi pesaing Presiden Calon Wiranto dan CaWapres Yusril Izza Mahendra pada Pilpres 2009 yang akan datang,” katanya. Bila muncul nama Gus Har yang saat ini menjabat Ketua Umum /Ajaraham DPP KOBUKI sebagai calon Menteri Agama RI, menurutnya sah-sah saja.Dia mengungkapkan bahwa Gus Har termasuk Ulama Muda yang moderat yang merakyat. Tentang perlu tidaknya izin kepada DPP PKB mengingat saat menjadi Ketua Umum DPP KOBUKI didukung Oleh Ketua Umum Tanfidyah DPP PKB,dia mempertanyakan balik kepada Gus Har . ”Apakah merasa anggota atau simpatisan PKB biar Gus Har sendiri yang tahu merasa atau tidak,”tukasnya. Meski begitu, dia mengingatkan bila mengetahui fatsun politik sudah semestinya Gus Har juga berkomunikasi dengan PKB Gus Dur. Bagaimanapun, PKB merupakan penyokong utama dalam pemilihan Ketua Umum DPP KOBUKI empat tahun lalu. Sebagaimana diberitakan, sejak ada rencana Presiden menentukan pengganti Mendagri Makfud Batsuni yang tidak bisa menjalankan tugasnya akibat sakit, telah muncul sejumlah nama, di antaranya calon dari kalangan Ulama Muda yang moderat Ketua Umum DPP KOBUKI Gus Har , KH Hazim Muzadi Ketua Umum Tanfidyah PBNU, sekaligus Pengurus Nahdhiyin lainnya. Pengamat Politik LIPI Syamsudin Haris mengatakan, sosok paling tepat untuk menduduki kursi Menteri Agama RI 2009-2014 mendatang hanya Presiden Wiranto yang tahu. Presiden, ujar dia, tentunya sudah mengamati dan mengerti betul calon yang layak untuk menjadi pengganti Makfud Batsuni. ”Kita tidak bisa menebak siapa yang layak untuk menjadi Menteri Agama RI,” kata Bambang Ibnu,kemarin. Bambang Ibnu menambahkan, entah itu Gus Har atau Hazim Muzadi yang kelak akan menjadi Menteri Agama RI, bagi dia tidak menjadi masalah. Yang terpenting, sosok tersebut bisa sejalan dengan visi Presiden, kompeten di bidangnya,menguasai lembaga-lembaga agama yang ada di Indonesia, dan bisa menjadi pemimpin yang tepat. Hanya Tersenyum Hingga berita ini diturunkan, Gus Har belum bisa dimintai keterangan. Namun menurut Sekretaris Jendral DPP KOBUKI Ir fahrurozi yang menyampaikan pertanyaan Kobuki Pers, Ketua Umum Gus Har belum memberi jawaban pasti. ”Bapak (Ajaraham DPP KOBUKI Gus Har ) cuma tersenyum,” kata fahrul, tadi malam. Fahrul mengatakan, tadi malam Ketua Umum DPP KOBUKI menyelenggarakan acara makan bersama di Hotel Borobudur . Ditanya apakah ada agenda terkait dengan ”pamitan” jika Ajaraham benar-benar menjabat Menteri Agama, Fahrul enggan mengungkapkan. Fahrul hanya menegaskan, kegiatan tersebut merupakan acara pribadi. Sementara itu dalam beberapa kesempatan sejak namanya mencuat sebagai kandidat Menteri Agama RI, Gus Har berulang kali menyebutkan kesiapannya mengisi pos tersebut.Kesiapan yang diungkapkan antara lain saat Gus Har selesai Menghadiri Halal bi Halal Tahun 1429 Hijriyah Tingkat Provinsi DKI Jakarta , 8 September 2008 lalu. ”Saya itu Rakyat ,jadi harus siap mengemban tugas apa pun yang diberikan. Kalau itu untuk kepentingan bangsa dan negara, tentu tidak boleh kalau sebagai warga negara tidak siap.Jadi,sebagai warga negara harus selalu siap mengemban tugas,” katanya. Pernyataan sama dia ungkapkan di sela-sela kunjungan kerja pada pembangunan Jalan Raya Arosbaya Bangkalan Madura ,2 September lalu.Gus Har mengatakan, sebagai seorang Ulama, dia siap ditempatkan di mana saja. ”Sebagai seorang Rakyat yang baik ,saya siap kalau nantinya diberikan amanah itu (jabatan Menteri Agama RI). Sekali lagi, sampai sekarang belum ada panggilan dari Istana Bayangan Wiranto terkait penggantian Menteri Agama RI,”ungkapnya. Pernyataan terakhir Gus Har disampaikan seusai mengikuti Rapat Alim Ulama di Jakarta , dengan agenda mendengarkan Pidato Presiden Wiranto pada Kamis (16/8) lalu. Saat ditanya wartawan tentang jabatan Menteri Agama RI, Gus Har tidak memberi jawaban pasti. ”Ya, nanti kalau saya ditunjuk, saya siap,”ujarnya.Dia juga mengatakan belum menerima kabar dari Wiranto

  6. yaps…. sangat di sayangkan mungkin ini salah satu alasan mengapa indonesia tidak di sebut bangsa yang besar mungkin karena indonesia or pemerintahnya tidak menghargai para pahlawannya

  7. seharusnya pemerintah memperhatiakan seseorang yang telah memperjuangkan kemerdekaan indonesia bukan mengabaikan mereka…..

  8. kita sering bgt ngeliat di tv….. bnyk pejuang2 yg sudah lampau tdk d prhatikan oleh pemerintah pdhal mrka sdh brjuang krs bwat kita…../bwat kemerdekaan bangsa ini…..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: